Self Reminder: Berkomunikasi Baik dengan Rekan Kerja

Self reminder adalah catatan saya mengenai hal penting yang harus selalu saya ingat. Hal penting yang saya tulis merupakan hasil pengamatan dari lingkungan sekitar saya.

Copy of the handful

Sekilas judul di atas merupakan hal yang mudah dan sudah diketahui oleh semua orang. Saya pun sempat menyepelekan kalimat tersebut karena ga ada yang sulit dari berkomunikasi.

Kenyataannya, selama saya bekerja seringkali kesalahan ditimbulkan karena miss-communication atau kesalahan berkomunikasi. Ujung-ujungnya, saling menyalahkan dan timbul berbagai konflik. Saya yang sehari-hari sering mengerjakan hal-hal terkait event, paling gemes sama orang yang ga bisa komunikasi. Bahkan sekedar untuk ngomong iya atau tidak.

contoh: ada satu departemen yang isinya manajer semua. Mereka masing-masing handle tim yang berbeda-beda. Tugas mereka adalah untuk memberikan training bagi tim sales. Gatau deh mungkin ngerasa ngegampangin karena suatu hal dan biasa ngehandle sendiri apa gimana, untuk hal-hal yang melibatkan koordinasi, selalu deh selaluuuu ga komunikasi dengan baik. Akibatnya adalah merugikan pihak lain. Terutama, organizer (perencana acara). Saya sebagai organizer, suka merasa tersinggung ya terkesan bekerja tidak baik dan ada perasaan pahit karena tidak bisa menolak dan harus nurutin kebutuhannya.

Itu ga baik guys! Makanya siapapun yang punya tanggung jawab akan sesuatu, tanggung jawab secara total dan keseluruhan. Pastikan semuanya in control.. jangan serba ngedadak dan tidak rapi haduhhh. Manajer harusnya pinter kan? Tapi kok masalah komunikasi aja ga bisa. Untuk menghindari pihak yang tersinggung, persiapan yang buruk, eksekusi acara yang nanggung, ada baiknya terus belajar untuk berkomunikasi dengan baik.

Gimana caranya komunikasi yang baik dalam bekerja?

  1. Mengetahui rencana kerja, detil
  2. Pikirkan siapa saja pihak yang mungkin terlibat dan jangan remehkan peran pihak-pihak terkait
  3. Lakukan follow up yang baik dan terus menerus

Updated:
Kemudian stelah aku posting tulisan di atas, ada yang nanya ke aku “gimana cara untuk follow up orang tanpa terkesan nagih?”

Tujuan dari follow up adalah kita ingin mengetahui sejauh mana perkembangan atas sebuah pekerjaan atau suatu hal. Secara tidak langsung adalah nagih.

Well, kalo konteksnya adalah dunia professional kerja, follow up itu perlu banget karena kita sama-sama punya target. Bawahan yang punya atasan bawel banget kalo follow up, terima terima aja kan biasanya? Kesan nagih kerjaan sah banget. Haha pengalaman. Cara ngehandle nya adalah dengan ‘gercep’ alias gerak cepet melakukan instruksi dan cari tau jawabannya secepat cepatnya. Umumnya bos gamau tau. Tipe bos kaya gini, biasanya ga suka ada delay info. Pokonya harus gercep.

Kalo terjadi di lingkungan organisasi baik itu kemahasiswaan ataupun sekolah, kalo mau follow up hal yang menurut saya perlu diperhatikan adalah ‘timing’. Timing is everything. Kalian masih sama-sama belajar. Mungkin sebagian dari kalian juga bahkan ga suka dipimpin sama ‘temen sendiri’ makanya timbul kesan ‘nagih’ .

**Buat temen yang ga baperan dan ‘profesional’, bisa ditanya kerjaan kapan pun. Umummya si tipe yang kaya gini dia akan dengan senang hati memaparkan perkembangannya.

**Buat temen yang judes, baperan, atau ‘selow aja’, kalo mau follow up enaknya saat meeting. Rencanain meeting atau rapat dengan tim. Disitu kan situasinya semua orang pun ngerti akan difollow up oleh atasan.

Tapi mentang-mentang mau tau perkembangannya gimana, sering adain meeting gitu? Ya gak lah. Tapi berlaku kalo acara udah mepet.

Pimpinan harus tau yang mana kira-kira harus di follow up terus, misal tim acara, sponsor, dan dana usaha. Di luar meeting still ok, makanya pilih orang yang seneng kerja. Inget juga untuk sopan sama temen kalo ngerasa keseringan FU.

Sebagai project officer ke koordinator:

“Sorry nih/maaf nih, gw kepikiran sponsor kita ni kira-kira kecapai ga ya target kita? Apa tim sponsor kurang orang? Masalahnya dimana ya?”

Saranku sih, untuk tipe ini hindarin ngobrolin kerjaan di luar meeting. Orang-orang kaya gini nih ga suka serius serius banget.

Kalo dia ga dateng meeting, bisa ni jadi alesan untuk follow up di luar meeting. Pokonya jadi orang jangan bossy gitu deh biar lawan bicara juga ga sebel.

**Kalo follow up pihak eksternal gimana?

Saat kalian bertemu dengan pihak eksternal, tanyakan “kapan ya Pak/Bu saya bisa follow up lagi?”. Catet deadline di kalender kalian. Nanti saat waktu yang mereka janjikan belum juga ada perkembangan, baru deh sah untuk nanya.

Semoga clear dan membantu 🙂

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. zapufaa says:

    Kadang follwup yang baik dan terus menerus juga butuh…… Tips :”)
    Ditunggu kak tipsnya haha

    1. nilasyara says:

      Thank you udh main ke blog aku. Hehe. Idenya bagus juga, krn aku pengalaman followup banyak pihak utk berbagai keperluan. Kl km butuh tips utk FU keperluan apa ni?

      1. zapufaa says:

        Semisal follup dalam kegiatan sesama panitiaa sih kaak, gmn caranya kita terus ngefollup tapi kesannya nggak nagih nagih gituu, kadangkan org suka risih ya haha

      2. nilasyara says:

        Aku udah update tulisanku di atas yaa untuk hal yang kamu tanyakan. Semoga membantu dan boleh juga untuk feedbacknya 🙂

      3. zapufaa says:

        Terima kasih kakakkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s