Self Reminder: Kebaikan Harus dibayar Kebaikan

Self reminder adalah catatan saya mengenai hal penting yang harus selalu saya ingat. Hal  penting yang saya tulis merupakan hasil pengamatan dari lingkungan sekitar saya.

the handful (1)

Saya tahu kalo kita hidup ga sendirian. Kita pasti punya seseorang yang dapat kita andalkan di berbagai situasi. Orang yang dapat kita mintakan saran dan pertolongan saat kita membutuhkan. Enak yaa jadi makhluk sosial (kaya istilah di pelajaran PPKN jaman SD)… Itulah salah satu hal yang saya syukuri dari kehidupan yang sudah Allah berikan kepada kita. Cieehhhh…

Atas dasar pemikiran tersebut, sah sah aja kalo kita selalu meminta pertolongan kepada orang tua, teman, saudara, atau rekan kerja. Tapi pernah ga sih kalian pikir kalau pertolongan yang kita terima sebenernya adalah hutang kita kepada mereka? Artinya, secara tidak tertulis kita wajib membayarnya dengan memberikan pertolongan atau bersikap baik kepada mereka saat membutuhkan. Make sense dong kalo seseorang mungkin saja mengingat kebaikan yang telah dilakukan dan meminta sebaliknya dari kita. Walaupun, saya pernah membaca katanya kalo orang ikhlas dia ga bakalan inget kebaikannya terhadap orang lain. Tapi ya namanya juga manusia, kita ga tau isi hatinya.

Jangan marah kalo ada orang yang ngungkit kebaikannya saat dia butuh bantuan kita. Jangan dulu mikir “ Ih ngungkit-ngungkit, ga ikhlas banget sih…”. Ikhlas ga ikhlas nya seseorang bukan urusan kita. Sebagai makhluk sosial yang katanya ga bisa hidup sendiri, kita harus TAU DIRI. In line sama omongan saya di atas, kebaikan yang kita terima dari orang lain adalah hutang kita yang wajib dibayar. Implikasinya sih, minimal 1-1 alias impas. Lebih baik kalo kamu bisa membalas berkali-kali lipat kebaikan  😊. Tidak perlu laah diminta agar kita berlaku baik kepada seseorang. Sadar diri akan situasi dan belajar menghargai orang lain akan membuatmu lebih peka di kehidupan sosial.

Sebenernya pemikiran ini merupakan cerminan pengalaman pribadi saya sih. Saya pernah membantu seseorang di saat dia sedang membutuhkan bantuan. Namun karena saya mengingat kebaikan tersebut, membuat saya berharap dia akan membantu saya juga. Suatu ketika, saya sedang dalam keadaan sulit dan saya meminta bantuannya. Namun yang terjadi tidak seperti peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya pun kecewa pada akhirnya. Saya berdoa yang banyak agar tidak menyesal atas kebaikan yang telah saya berikan. Saya berdoa agar saya ikhlas. Tidak bermaksud naif.. tapi saya lebih berusaha untuk menyesal karena “kenapa saya musti berharap?” Serius deh, berharap kebaikan dari orang lain tidaklah baik… jatohnya pamrih. Tapi juga, pelajarannya  saya jadi tahu perasaan orang yang mungkin pernah menolong saya. Jauh di dalam hatinya mengharapkan hal yang sama saat ia terjatuh. Semoga apabila momen tersebut datang, saya dapat membayar hutang kebaikan tersebut kepadanya.

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Nice post! Jadikan kebaikanmu seperti air, menguap, tak terlihat, tapi pasti kembali sebagai hujan.
    Follback, Kak 🙋
    https://nadhirare.wordpress.com

    1. nilasyara says:

      Thank you. Done yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s